Pembangunan Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh, telah selesai dan sedang dalam masa pemeliharaan. Bendungan ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan penyediaan air baku, irigasi, dan reduksi banjir. Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti mengatakan bahwa pembangunan Bendungan Rukoh sangat diperlukan untuk mendukung ketahanan pangan.
Bendungan Rukoh memiliki kapasitas tampung sebesar 128 juta m3 dan luas genangan 687 Ha. Bendungan ini juga memiliki fungsi sebagai reduksi banjir seluas 51 Ha. Selain itu, Bendungan Rukoh juga berpotensi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 137 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebesar 1,22 MW.
Dengan adanya Bendungan Rukoh, Indeks Pertanaman (IP) juga mengalami peningkatan dari 191% menjadi 300%. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian. Direktur Bendungan dan Danau, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Adenan Rasyid mengatakan bahwa dengan adanya Bendungan Rukoh, diproyeksikan jumlah produksi pertanian yang dapat dihasilkan tahun ini sebesar 6 ton per Ha.
Pembangunan Bendungan Rukoh dilaksanakan secara bertahap mulai tahun 2018 hingga 2024 dengan total anggaran sebesar Rp1,7 triliun. Bendungan ini dibangun oleh PT Nindya Karya (Persero) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk – PT Adhi Karya (Persero) Tbk – PT Andesmont Sakti, KSO.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Heru Setiawan mengatakan bahwa skema pemanfaatan Bendungan Rukoh sesuai dengan Asta Cita Pemerintah Indonesia, yaitu dapat memberi manfaat bagi ketahanan pangan, energi, dan air.
Dengan demikian, Bendungan Rukoh diharapkan dapat menjadi solusi ketahanan pangan dan energi di Aceh. Pembangunan bendungan ini juga diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian dan memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

