Pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Karangnongko di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, membawa dampak signifikan terhadap tiga desa di wilayah tersebut. Desa Ngrawoh, Nglebak, dan Nginggil menjadi wilayah yang terdampak langsung oleh proyek besar tersebut. Dalam menyikapi hal ini, Bupati Blora, Arief Rohman, bergerak cepat dengan mencari solusi terbaik agar warga yang terdampak tetap bisa hidup layak dan sejahtera.
Langkah konkret yang diambil oleh Bupati Arief adalah menemui Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman, secara langsung di Jakarta. Pertemuan ini berlangsung di kantor Kementerian Transmigrasi, yang berlokasi di Jalan TMP Kalibata Nomor 17, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan tersebut, Arief menyampaikan aspirasi serta keresahan masyarakat Blora yang tanah kelahirannya akan tergusur akibat proyek pembangunan bendungan.
Menurut Arief, solusi yang diusulkan adalah bentuk transmigrasi lokal, yakni relokasi penduduk desa terdampak ke lokasi baru yang tidak terlalu jauh dari desa asal. “Harapan kami desa ini tetap ada, dalam artian direlokasi atau istilahnya transmigrasi lokal yang lokasinya tidak jauh dari desa yang sekarang. Ya, jaraknya paling jauh 2 km,” ungkap Arief dalam keterangan resminya.
Solusi ini diusulkan bukan hanya untuk menjaga kedekatan sosial antarwarga dan kesinambungan budaya, tetapi juga untuk memastikan mereka tetap memiliki akses ke lahan, sumber daya alam, dan jejaring ekonomi yang sudah terbangun sebelumnya. Arief juga menyebutkan bahwa lokasi transmigrasi lokal tersebut telah dipertimbangkan dengan matang, yakni di wilayah Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) milik Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berada di kawasan Getas.
Langkah ini mencerminkan prinsip kehati-hatian pemerintah daerah dalam menyukseskan proyek strategis nasional sekaligus tetap memperhatikan nasib masyarakat yang terdampak. “Tentunya kami ingin mensukseskan pembangunan Bendung Karangnongko yang ditetapkan sebagai PSN. Tapi kami juga ingin menampung keinginan dan mencarikan solusi untuk masyarakat desa yang terdampak,” ujar Arief.
Usulan ini pun disambut positif oleh Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman. Menurutnya, gagasan transmigrasi lokal merupakan ide yang sangat baik dan relevan dengan arahan Presiden Joko Widodo yang menginginkan agar program transmigrasi tidak hanya menjadi perpindahan penduduk semata, melainkan juga dapat menciptakan desa-desa produktif di lokasi baru.
“Karena ide brilian dari Pak Bupati, istilahnya transmigrasi lokal,” ujar Menteri Iftitah dalam kesempatan yang sama.
Lebih lanjut, Menteri Iftitah menjelaskan bahwa pendekatan transmigrasi saat ini memang diarahkan untuk menciptakan desa-desa yang mampu menjadi sentra ekonomi baru. “Kalau istilah kami desa menjadi pencetak uang,” tandasnya. Hal ini menandakan bahwa pemerintah pusat juga memiliki perhatian serius terhadap nasib warga yang terdampak pembangunan nasional dan berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan mereka melalui pola pembangunan yang inklusif.
Dari pernyataan Menteri Iftitah, terlihat bahwa pemerintah pusat dan daerah berada dalam satu visi dalam menyikapi dampak pembangunan besar seperti PSN Bendungan Karangnongko. Selain suksesnya pembangunan fisik bendungan, aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat yang terdampak pun menjadi prioritas utama.
Langkah Bupati Blora untuk proaktif dan menyuarakan aspirasi warganya secara langsung kepada kementerian terkait juga merupakan contoh kepemimpinan yang responsif dan berpihak pada rakyat. Hal ini penting agar proyek-proyek strategis nasional tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, khususnya mereka yang terdampak langsung.
Dukungan terhadap usulan transmigrasi lokal ini juga memberikan sinyal positif terhadap kolaborasi antarlembaga pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Dengan komunikasi dan kerja sama yang baik, solusi terbaik bisa ditemukan tanpa mengorbankan pembangunan maupun hak-hak masyarakat.
Secara keseluruhan, upaya yang dilakukan oleh Bupati Blora bersama Kementerian Transmigrasi ini memberikan harapan baru bagi warga tiga desa yang terdampak. Dengan transmigrasi lokal sebagai solusi alternatif, diharapkan warga tetap dapat melanjutkan kehidupannya dengan layak di tempat baru, tanpa kehilangan identitas desa, komunitas, maupun sumber kehidupan mereka.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

