Lomba Rancang Bendungan Nasional ke-VIII kembali menjadi ajang bergengsi bagi mahasiswa teknik sipil dari seluruh Indonesia untuk unjuk gigi dalam merancang infrastruktur vital yang memiliki nilai strategis tinggi. Diselenggarakan oleh Universitas Mataram, kompetisi ini mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi ternama, yang saling bersaing dalam menunjukkan inovasi dan keunggulan desain di bidang teknik keairan.
Kompetisi ini dirancang sebagai platform untuk menggali potensi mahasiswa dalam merancang bendungan yang tidak hanya memenuhi aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan nilai-nilai keberlanjutan, efisiensi operasional, serta dampak sosial dan ekonomi di sekitarnya. Dengan seleksi ketat, hanya delapan tim terbaik yang berhasil lolos ke babak final. Di tahap ini, peserta menghadapi tiga komponen penilaian utama, yakni presentasi hasil rancangan, sesi tanya jawab dengan dewan juri yang terdiri dari para pakar teknik sipil, serta pembuatan dan pameran maket bendungan.
Di tengah kompetisi yang ketat ini, Tim Gamawotah dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mencetak prestasi membanggakan dengan meraih posisi juara ketiga. Tim ini terdiri dari tiga mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2021: Bintang Lailatul Qadri sebagai ketua tim, serta Faris Fathurrohman dan Alief Rizky Pratama sebagai anggota. Ketiganya mampu menunjukkan kemampuan teknis dan inovatif mereka dalam perancangan bendungan, serta kecakapan komunikasi ilmiah dan kreativitas yang menjadi nilai tambah penting dalam kompetisi ini.
Perjalanan Tim Gamawotah dalam kompetisi ini tidak terlepas dari peran pembimbing mereka, Dr. Ir. Istiarto, M.Eng., yang memberikan bimbingan dan arahan strategis dalam setiap tahap perancangan. Dengan pengalaman dan keahlian di bidang teknik sipil, beliau membantu tim dalam merumuskan solusi desain yang tidak hanya kuat dari segi teknis, tetapi juga relevan dengan isu-isu kontemporer seperti pemanfaatan teknologi digital dan pengembangan ekonomi lokal.
Rancangan yang diajukan oleh Tim Gamawotah berjudul “Perancangan Bendungan Gamawotah dengan Sistem IoT untuk Optimalisasi Operasi, Pemeliharaan, dan Pengembangan Wisata Berbasis Ekonomi Lokal Berkelanjutan.” Judul tersebut mencerminkan pendekatan multidimensional yang mereka ambil, yaitu integrasi antara teknologi modern dan pemberdayaan masyarakat.
Secara teknis, bendungan yang dirancang adalah tipe urugan dengan kapasitas tampung hingga 50 juta meter kubik (MCM), menunjukkan skala besar dan potensi manfaatnya yang signifikan. Salah satu aspek paling menonjol dari rancangan ini adalah penerapan sistem Internet of Things (IoT) dalam pengelolaan bendungan. Dengan teknologi ini, operasi dan pemeliharaan bendungan dapat dilakukan secara lebih efisien dan presisi. Berbagai parameter penting seperti elevasi air dan kondisi struktur dapat dipantau secara real-time, yang memungkinkan respons cepat terhadap potensi risiko seperti kebocoran, longsor, atau kapasitas berlebih.
Namun, inovasi Tim Gamawotah tidak berhenti pada aspek teknologi. Mereka juga menunjukkan kepekaan sosial dengan memasukkan elemen pemberdayaan ekonomi lokal dalam perancangan kawasan sekitar bendungan. Rancangan mereka mencakup pengembangan fasilitas wisata yang terintegrasi dengan kekayaan budaya dan sumber daya lokal. Ini membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk terlibat aktif dalam pengelolaan dan pemanfaatan kawasan, sehingga menciptakan nilai tambah ekonomi secara berkelanjutan.
Pendekatan ini menjadikan bendungan bukan hanya sebagai infrastruktur teknis, tetapi juga sebagai pusat pengembangan sosial dan ekonomi yang berpihak pada masyarakat. Dalam konteks pembangunan nasional, rancangan semacam ini sangat relevan karena mampu menjawab tantangan kebutuhan infrastruktur sekaligus memperkuat ketahanan sosial-ekonomi lokal.
Keberhasilan Tim Gamawotah mencerminkan sinergi antara penguasaan teknis, pemanfaatan teknologi mutakhir, dan visi pembangunan yang berkelanjutan. Prestasi mereka menjadi bukti bahwa mahasiswa teknik sipil Indonesia mampu bersaing di tingkat nasional dengan gagasan yang visioner dan aplikatif. Tidak hanya itu, keberhasilan ini juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan inovasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Sebagai juara ketiga dalam Lomba Rancang Bendungan Nasional ke-VIII, Tim Gamawotah telah menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar dalam menciptakan solusi infrastruktur yang tidak hanya andal secara teknis, tetapi juga berdampak luas secara sosial dan ekonomi. Harapannya, semangat dan capaian ini dapat mendorong lebih banyak kolaborasi antara dunia akademik, industri, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

