Pemerintah Kabupaten Tana Tidung terus menunjukkan komitmennya dalam membangun infrastruktur transportasi yang andal dan terintegrasi. Salah satu langkah strategis yang kini tengah digarap adalah pengembangan Pelabuhan Bebatu menjadi pusat aktivitas bongkar muat barang. Upaya ini dinilai krusial dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, memperlancar arus logistik, serta meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Sebagai bentuk keseriusan, Pemerintah Kabupaten Tana Tidung melalui Dinas Perhubungan telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 4 miliar pada tahun ini untuk membangun trestel, yakni jembatan penghubung dari daratan ke dermaga. Trestel ini menjadi elemen vital dalam menunjang aktivitas logistik karena memungkinkan kendaraan pengangkut barang dapat langsung mengakses dermaga tanpa hambatan.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perhubungan Tana Tidung, Didakus Pito, menjelaskan bahwa proyek pembangunan trestel ini telah memasuki tahap tender. Jika tidak ada kendala yang berarti, maka proses pembangunan akan segera dimulai dalam waktu dekat.
“Target kita, tahun depan kapal-kapal barang sudah bisa bersandar dan bongkar muat di Bebatu. Sekarang sedang proses tender, mudah-mudahan lancar,” ujar Didakus.
Menurutnya, dengan difungsikannya Pelabuhan Bebatu sebagai pelabuhan utama, maka beban operasional yang selama ini ditanggung oleh Pelabuhan Tidung Pale akan berkurang secara signifikan. Pelabuhan Tidung Pale, yang selama ini menjadi titik utama aktivitas bongkar muat, ke depan akan dialihkan fungsinya untuk melayani kegiatan lokal seperti perahu nelayan, speedboat nonreguler, serta penyeberangan masyarakat sekitar.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi penataan ulang sistem pelabuhan di wilayah Tana Tidung, demi menciptakan pelabuhan yang lebih tertib, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan jangka panjang. Pelabuhan Bebatu dirancang tidak hanya sebagai pelabuhan barang, tetapi juga untuk menampung aktivitas kapal rakyat dan kapal kayu. Sementara untuk kapal-kapal besar dengan kapasitas antara 5.000 hingga 10.000 Gross Tonnage (GT), pengembangan fasilitas akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan anggaran pemerintah.
“Yang pasti, ke depan pelabuhan kita tidak lagi semrawut. Masyarakat bisa menikmati fasilitas yang lebih nyaman, aman, dan terorganisir,” tambah Didakus.
Tidak hanya fokus pada Pelabuhan Bebatu, Dinas Perhubungan Tana Tidung juga melanjutkan penguatan infrastruktur pelabuhan lainnya. Salah satunya adalah pembangunan sistem pengaman dermaga di Pelabuhan Keramat. Proyek ini bertujuan untuk melindungi dermaga dari potensi kerusakan akibat tumbukan benda besar seperti kayu gelondongan yang terbawa arus sungai.
“Sebab kayu-kayu kita ini kan besar-besar. Maka kami akan pasang pancang beton sebagai pengaman dermaga untuk mengurangi risiko kerusakan akibat hantaman kayu,” jelas Didakus.
Pancang beton akan dipasang di sisi kiri dan kanan dermaga. Dengan begitu, dermaga bisa lebih tahan lama dan aman dari benturan benda keras yang hanyut dari hulu maupun hilir sungai. Untuk proyek ini, pemerintah juga telah menganggarkan dana sebesar Rp 3 miliar yang kini juga tengah dalam tahap tender.
Langkah simultan dalam membangun dan memperkuat dua pelabuhan ini menunjukkan arah kebijakan infrastruktur Tana Tidung yang berfokus pada efisiensi, keselamatan, dan pelayanan yang lebih baik. Dalam jangka panjang, pembangunan Pelabuhan Bebatu diharapkan mampu menjadi pusat distribusi logistik regional yang andal, serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi lokal dengan terbukanya akses barang dan jasa secara lebih lancar.
Lebih dari itu, proyek ini juga membuka peluang kerja baru dan potensi investasi di sektor pelayaran, perdagangan, serta industri pendukung lainnya. Kawasan sekitar pelabuhan berpotensi berkembang menjadi pusat ekonomi baru, mengingat lalu lintas barang yang meningkat akan menciptakan kebutuhan terhadap fasilitas gudang, jasa transportasi, serta layanan penunjang lainnya.
Dengan pengembangan Pelabuhan Bebatu dan penguatan Pelabuhan Keramat, Pemerintah Kabupaten Tana Tidung mengirimkan sinyal kuat bahwa pembangunan infrastruktur bukan hanya menjadi prioritas, tetapi juga dijalankan dengan perencanaan matang dan implementasi yang terukur. Tantangan ke depan tentu masih ada, baik dari sisi teknis, lingkungan, maupun sosial. Namun dengan sinergi antarinstansi dan dukungan masyarakat, visi menjadikan Tana Tidung sebagai wilayah logistik yang tangguh bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

