Sampang, 30 Mei 2025 — Sejak 23 Mei 2025, pelabuhan desa di Marparan, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, kembali dikepung air pasang laut. Banjir yang terjadi akibat naiknya permukaan laut ini mengakibatkan pelabuhan serta akses jalan menuju kawasan wisata mangrove terendam air, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari warga, terutama pengendara sepeda motor yang menggantungkan hidupnya pada jalur tersebut.
Fenomena ini bukanlah kejadian baru. Pelabuhan dan kawasan sekitarnya telah menjadi langganan genangan saat terjadi pasang laut tinggi. Sayangnya, hingga saat ini belum ada solusi konkret dari pemerintah, sehingga keluhan warga terus mengemuka.
“Setiap air laut pasang tinggi, pelabuhan pasti terendam. Air bisa sampai selutut orang dewasa. Kalau dipaksakan lewat, motor warga bisa mogok,” ujar Rohim (40), salah seorang warga Desa Marparan saat ditemui pada Jumat (30/05/2025).
Menurutnya, genangan air tidak hanya membatasi aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan, tapi juga merusak kendaraan warga dan mengancam keselamatan. Dalam jangka panjang, hal ini dinilai akan memperburuk kondisi ekonomi masyarakat setempat, yang sebagian besar bergantung pada aktivitas pelabuhan dan wisata mangrove.
Tak hanya pelabuhan, jalan desa yang menjadi akses utama menuju lokasi wisata mangrove di kawasan tersebut juga ikut terdampak. Air laut yang pasang ditambah dengan jebolnya tanggul tambak milik warga memperparah keadaan. Air pun meluap dengan mudah ke badan jalan.
“Bukan hanya pelabuhan, lokasi wisata mangrove di pinggirnya juga ikut terendam. Air bahkan meluap sampai ke jalan desa akibat tambak warga yang jebol,” jelas Rohim.
Kondisi ini tentu menghambat geliat wisata yang sedang dikembangkan di wilayah tersebut. Padahal, wisata mangrove Marparan sempat digadang-gadang sebagai potensi unggulan desa untuk menarik kunjungan wisatawan lokal dan meningkatkan pendapatan warga.
Melihat kondisi tersebut, warga pun berharap pemerintah daerah maupun pemerintah desa segera mengambil tindakan nyata untuk mengatasi masalah yang telah berlangsung cukup lama ini. Penanganan yang diharapkan meliputi perbaikan tanggul, peninggian jalur jalan menuju pelabuhan dan lokasi wisata, serta pembangunan sistem drainase atau pemecah gelombang yang mampu mengantisipasi air laut pasang.
“Kami ingin ada perhatian serius. Jangan sampai dibiarkan terus begini. Pelabuhan ini sangat penting bagi kami. Kalau tidak bisa dipakai karena selalu tergenang, ekonomi masyarakat akan terganggu,” tambah Rohim.
Sampai saat ini, Penjabat Kepala Desa Marparan, Tosin, belum memberikan keterangan resmi mengenai langkah-langkah penanganan yang akan diambil pemerintah desa. Warga pun semakin khawatir karena curah hujan dan pasang air laut diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa minggu ke depan.
Masyarakat Desa Marparan kini menunggu keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan ini. Mereka berharap agar pelabuhan dan akses jalan vital desa tak lagi menjadi korban langganan genangan, sehingga aktivitas ekonomi dan wisata dapat kembali berjalan normal tanpa terganggu banjir rob.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

