cropped-Desain-tanpa-judul-1.png
Loading ...

AHY Paparkan Lima Prioritas Infrastruktur Nasional di ICI 2025

Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan dalam membangun infrastruktur berkelanjutan dan merata di seluruh pelosok negeri. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dalam pidato pembukaannya pada International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu, 11 Juni 2025.

Dalam forum internasional yang dihadiri oleh ribuan peserta dari 26 negara, AHY menyampaikan lima prioritas utama strategi infrastruktur nasional yang akan menjadi fondasi pembangunan Indonesia dalam dekade mendatang. Ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga langkah nyata untuk menyatukan bangsa, membuka peluang ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Sebagai Menko, saya memiliki kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk memastikan bahwa visi ini diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujar AHY di hadapan delegasi dari berbagai negara dan lembaga keuangan dunia seperti World Bank, Asian Development Bank (ADB), International Finance Corporation (IFC), serta investor besar seperti Macquarie dan GIC.

1. Infrastruktur Ketahanan Pangan dan Air

Prioritas pertama pemerintah adalah membangun ketahanan pangan dan air sebagai dasar stabilitas nasional. Pemerintah tengah merehabilitasi lebih dari 2,5 juta hektare jaringan irigasi untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu, pembangunan bendungan multifungsi terus digenjot untuk mendukung pasokan air di berbagai wilayah, terutama daerah rawan kekeringan.

Upaya memperkuat rantai pasok pangan dilakukan melalui pembangunan fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) serta infrastruktur agro-logistik yang mendorong efisiensi distribusi hasil pertanian dan perikanan. Seluruh langkah ini ditujukan untuk mencapai kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan impor.

2. Energi Bersih dan Terbarukan

Pemerintah juga berkomitmen penuh dalam transisi energi menuju sumber yang lebih ramah lingkungan. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, 76 persen dari tambahan kapasitas sebesar 69,5 gigawatt ditargetkan berasal dari energi terbarukan.

Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), tenaga air (PLTA), panas bumi, dan waste-to-energy (pengolahan sampah menjadi energi) terus dipercepat. Selain itu, elektrifikasi pedesaan dan pengembangan jaringan listrik cerdas (smart grid) menjadi fokus untuk memastikan pemerataan akses energi hingga pelosok negeri.

3. Konektivitas Merata dan Terintegrasi

AHY juga menyoroti pentingnya membangun konektivitas yang merata dan terintegrasi antarwilayah. Proyek-proyek transportasi massal berbasis rel, pengembangan jaringan jalan, pelabuhan, dan bandara terus diperluas, terutama di wilayah timur Indonesia yang selama ini masih tertinggal dari sisi infrastruktur.

Tidak hanya itu, infrastruktur digital juga menjadi bagian dari prioritas strategis. Pemerintah menyadari bahwa konektivitas bukan hanya soal mobilitas fisik, tetapi juga koneksi data dan informasi. Pembangunan jaringan broadband nasional dipercepat untuk menjangkau wilayah terpencil dan mendukung ekonomi digital.

4. Kota Layak Huni dan Tangguh

Menyambut Indonesia Emas 2045, pemerintah menyiapkan strategi pembangunan kota yang layak huni, ramah lingkungan, dan tahan terhadap bencana. Fokus utama mencakup penyediaan perumahan terjangkau, pembangunan berbasis transit (transit-oriented development), serta pengembangan bangunan hijau yang hemat energi dan air.

Langkah-langkah pengendalian banjir dan peningkatan kualitas udara juga menjadi bagian dari agenda. Di wilayah pantai utara Pulau Jawa, pemerintah menjalankan program perlindungan pesisir guna mengatasi ancaman penurunan tanah dan naiknya permukaan air laut akibat perubahan iklim.

5. Reformasi Pembiayaan Infrastruktur

Untuk mendukung seluruh prioritas tersebut, pemerintah melakukan reformasi besar dalam sistem pembiayaan infrastruktur. Skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) terus dikembangkan untuk menggandeng sektor swasta dalam pembiayaan proyek strategis.

Selain KPBU, pemerintah juga mulai memanfaatkan instrumen keuangan berkelanjutan seperti green bonds dan blended finance. Kolaborasi internasional semakin diperkuat, salah satunya melalui kerja sama dengan Danantara—platform pendanaan infrastruktur nasional—dan mitra global lainnya.

AHY menegaskan bahwa pelaksanaan kelima prioritas infrastruktur ini dikoordinasikan lintas kementerian dan lembaga, mulai dari ATR/BPN, Kementerian PUPR, Perhubungan, hingga Transmigrasi. Pendekatan terpadu ini diharapkan menghasilkan pembangunan yang menyeluruh dan berdampak nyata bagi masyarakat.

“Infrastruktur tidak cukup hanya ada—ia harus menyatukan bangsa, membuka peluang, dan mengangkat kesejahteraan,” tegas AHY.

ICI 2025: Panggung Kolaborasi Global

Konferensi ICI 2025 menjadi ajang penting untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam membangun infrastruktur berkelanjutan. Kehadiran delegasi dari Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Tiongkok, dan negara-negara Asia lainnya menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan.

Dengan mengusung semangat kolaboratif dan inovatif, forum ini diharapkan mampu mendorong investasi, pertukaran pengetahuan, dan pembentukan jaringan kerja lintas negara yang memperkuat upaya pembangunan jangka panjang Indonesia.

Penulis: Tim Media Konstruksi

Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/