Bertepatan dengan peringatan Hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (HMKG) ke-78, Indonesia mencatatkan tonggak baru dalam upaya mitigasi bencana nasional dengan diresmikannya Gedung Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Gedung ini bukan sekadar infrastruktur baru, melainkan pusat komando sistem peringatan dini multi-bahaya pertama di Indonesia yang dibangun dengan standar tahan gempa tertinggi.
Berlokasi di Jakarta dan dibangun di atas lahan seluas 8.450 meter persegi, MHEWS kini menjadi jantung sistem peringatan dini nasional. Dengan fasilitas berteknologi tinggi dan desain tahan gempa menggunakan sistem base isolation tipe Friction Pendulum, gedung ini mampu meredam guncangan dengan kekuatan gempa berulang setiap 2.500 tahun. Teknologi ini tidak hanya menjamin keselamatan struktur, tetapi juga memastikan kelangsungan operasional sistem peringatan dini dalam situasi bencana paling ekstrem sekalipun.
Pusat Kendali 24/7 Berbasis Teknologi Terintegrasi
Gedung MHEWS memiliki sembilan lantai dan dua basement, dilengkapi dengan 23 titik isolator yang dirancang presisi melalui sistem jacking. Fondasi bangunan ditanam hingga hampir 30 meter ke dalam tanah keras, menggantikan tanah lunak sebelumnya guna mengurangi amplifikasi gempa. Teknologi ini juga memungkinkan penerapan secara retrofitting pada gedung yang sudah berdiri, membuka jalan bagi perlindungan serupa di infrastruktur vital lainnya.
Dalam sambutannya saat peresmian, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa kehadiran gedung ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat sistem peringatan dini berbasis geofisika dan iklim di Indonesia. Sistem yang kini terintegrasi dalam satu pusat komando ini meliputi:
– Tsunami Early Warning System (TEWS)
– Earthquake Early Warning System (EEWS)
– Meteorology Early Warning System (MEWS)
– Climatology Early Warning System (CEWS)
“Sistem ini adalah hasil pembelajaran dari berbagai bencana besar di masa lalu seperti tsunami Aceh 2004 dan gempa Palu 2018. Sekarang, kita memiliki pusat kendali yang mampu memantau berbagai ancaman sekaligus, termasuk cuaca ekstrem, kualitas udara, gempa bumi, dan tsunami,” jelas Dwikorita.
Backup Center di Denpasar: Jaminan Layanan Nonstop
Untuk memastikan kontinuitas layanan peringatan dini, proyek ini juga membangun pusat cadangan (backup center) di Denpasar, Bali. Meskipun versi Denpasar dibangun dalam skala lebih sederhana, peranannya tetap vital untuk menjamin bahwa layanan sistem tidak terputus dalam kondisi darurat.
Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Ketangguhan Nasional
Peresmian Gedung MHEWS turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari berbagai lembaga negara. Sekretaris Utama BNPB Rustian, yang mewakili Kepala BNPB, menyampaikan bahwa Indonesia menghadapi 3.000 hingga 5.000 kejadian bencana setiap tahun dengan kerugian mencapai Rp23 hingga Rp30 triliun. Dalam konteks tersebut, keberadaan MHEWS menjadi krusial untuk membangun ekosistem mitigasi bencana yang lebih tangguh dan responsif.
“Gedung ini bukan sekadar struktur fisik, tetapi simbol awal penting dari sistem koordinasi terpadu yang kita butuhkan dalam situasi kritis,” ujar Rustian.
Hal senada disampaikan oleh Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii. Menurutnya, gedung ini akan menjadi pusat kendali strategis nasional, lengkap dengan sistem komunikasi bencana, pengolahan data real-time, serta operasional 24 jam penuh.
Produk Lokal, Teknologi Global
Yang menarik, meski teknologi Friction Pendulum berasal dari Italia, sebagian besar komponen yang digunakan dalam pembangunan gedung ini diproduksi secara lokal oleh WIKA Industri Baja, anak perusahaan dari PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE). Hal ini menambah nilai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dan menunjukkan bahwa industri konstruksi nasional mampu beradaptasi dan berinovasi dalam proyek berskala tinggi.
Menurut Direktur Operasional I WEGE, Bagus Tri Setyana, proyek ini menjadi tonggak baru dalam penerapan teknologi konstruksi untuk infrastruktur vital. “Kami tidak hanya membangun sebuah gedung, tetapi menciptakan solusi masa depan dalam menghadapi tantangan bencana di Indonesia,” ujarnya.
Komitmen Menuju Indonesia Tangguh Multi-Bahaya
Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN), pembangunan MHEWS menunjukkan bahwa Indonesia serius membangun ketangguhan bencana yang berkelanjutan. Ini sejalan dengan tema besar HMKG ke-78: “Peringatan Dini untuk Semua, Aksi Dini oleh Semua.” Seremoni peresmian ditutup dengan kunjungan ke ruang komando dan pemotongan pita, simbol dimulainya babak baru sistem peringatan dini nasional yang lebih terintegrasi dan modern.
Ke depan, MHEWS bukan hanya fasilitas pendukung, tetapi akan menjadi ikon ketahanan nasional dalam menghadapi multi-bahaya, dari cuaca ekstrem hingga bencana geologis. Kehadirannya menjadi bukti bahwa dengan kolaborasi lintas sektor, dukungan teknologi, dan SDM unggul, Indonesia mampu membangun ekosistem mitigasi bencana yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Dengan peluncuran MHEWS, Indonesia telah mengambil langkah strategis menuju masa depan yang lebih aman, tangguh, dan adaptif terhadap risiko bencana yang semakin kompleks di era perubahan iklim dan urbanisasi cepat.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

