Pembangunan Bendungan Jlantah di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, menjadi langkah strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan kapasitas pengairan yang mampu menjangkau hingga 1.500 hektare lahan pertanian, bendungan ini digadang-gadang akan menjadi tulang punggung irigasi di wilayah Karanganyar dan sekitarnya.
Pada Kamis (10/4/2025), Anggota DPR RI dari Komisi V Dapil 4 Jawa Tengah, Sriyanto Saputro, melakukan kunjungan kerja untuk meninjau langsung kesiapan Bendungan Jlantah. Dalam kunjungannya, ia menegaskan bahwa infrastruktur ini sudah berada dalam kondisi siap operasi dengan daya tampung air yang bahkan telah mencapai 101 persen. Kini, perhatian utama tertuju pada pembangunan saluran irigasi untuk mengalirkan air dari bendungan menuju lahan-lahan pertanian yang tersebar di tiga kecamatan: Jatiyoso, Jatipuro, dan Jumapolo.
Potensi Irigasi dan Dampak Ekonomi
Menurut Sriyanto, Bendungan Jlantah memiliki potensi besar dalam mendukung pengairan lahan sawah seluas 1.000 hingga 1.500 hektare. Bahkan, apabila ditambah dengan pembukaan lahan baru, terdapat kemungkinan ekspansi hingga 600 hektare tambahan. Ini merupakan kabar baik bagi sektor pertanian Karanganyar, yang selama ini menghadapi tantangan ketergantungan pada irigasi tadah hujan.
“Bendungan Jlantah ini menunjang pengairan di Kecamatan Jatiyoso, Jatipuro, dan Jumapolo. Belum lagi dampaknya untuk sektor wisata di Karanganyar,” ujar Sriyanto.
Lebih dari sekadar irigasi, bendungan ini juga diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Selain menjamin produktivitas pertanian, kawasan di sekitar bendungan memiliki potensi wisata yang bisa dikembangkan menjadi destinasi unggulan, memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar.
Koordinasi dengan Pemerintah Pusat
Sebagai wakil rakyat di Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur, Sriyanto menegaskan komitmennya untuk mengawal percepatan pembangunan irigasi pendukung bendungan. Ia menyebut bahwa koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS BS) akan terus dilakukan untuk merealisasikan proyek ini.
“Sudah ada Inpres Irigasi Nomor 2 Tahun 2025. Kita akan kebut supaya petani lebih sejahtera dan swasembada pangan tercapai,” tegasnya.
Saat ini, pembangunan irigasi pendukung masih dalam tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED). Sriyanto berharap proses pembahasan anggaran dapat dirampungkan dalam waktu dekat sehingga alokasi dana dapat masuk dalam APBN tahun 2026. Perkiraan kebutuhan anggaran sementara mencapai Rp130 miliar, meski angka ini belum final.
Air Baku dan Dukungan Pemkab Karanganyar
Selain untuk irigasi pertanian, Bendungan Jlantah juga dirancang untuk menjamin ketersediaan air baku bagi kebutuhan masyarakat. Diperkirakan, bendungan ini mampu menyuplai air baku hingga 150 liter per detik yang akan didistribusikan ke wilayah Kecamatan Jumapolo, Jatiyoso, dan Jatipuro.
Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar juga menjadi kunci keberhasilan kelanjutan proyek ini. Bupati Karanganyar, Rober Christanto, yang turut mendampingi kunjungan Sriyanto, menyampaikan komitmen penuh Pemkab untuk memfasilitasi proses pembebasan lahan yang dibutuhkan dalam pembangunan jaringan irigasi.
“Ya pasti kami akan menindaklanjuti ikut membantu proses pembebasan lahan. Intinya kami sangat berterima kasih pembangunan Waduk Jlantah udah 100 persen untuk pengairan pertanian di Kabupaten Karanganyar,” ujar Rober.
Rober menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten akan mendorong dan mempercepat seluruh proses administratif dan teknis agar irigasi bisa segera dimanfaatkan oleh para petani. Ia juga berharap agar kerja sama antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan legislatif terus terjalin erat untuk menyukseskan program ketahanan pangan di daerah.
Menuju Swasembada Pangan dan Peningkatan Kesejahteraan Petani
Proyek Bendungan Jlantah merupakan representasi nyata dari strategi pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan secara nasional. Dengan dukungan infrastruktur yang andal, para petani tidak lagi bergantung pada kondisi cuaca semata. Sebaliknya, mereka dapat mengatur pola tanam dengan lebih terencana dan berkelanjutan.
Sriyanto Saputro menekankan bahwa keberhasilan proyek ini akan berdampak luas, bukan hanya dalam konteks irigasi. “Ini bukan cuma soal air atau irigasi, tapi juga tentang bagaimana kita memperkuat ekonomi lokal, mengurangi angka kemiskinan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tandasnya.
Dengan segala potensi yang dimiliki Bendungan Jlantah—baik dari segi kapasitas irigasi, suplai air baku, hingga pengembangan wisata—harapan besar kini bertumpu pada sinergi antarlembaga untuk memastikan proyek ini segera terealisasi secara utuh. Keberhasilan bendungan ini akan menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan rakyat.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

