Pembangunan infrastruktur bendungan merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Pemerintah Indonesia telah menunjukkan keseriusan dalam agenda ini melalui berbagai proyek strategis yang tersebar di berbagai wilayah. Tidak hanya bertujuan menyediakan pasokan air bagi sektor pertanian, bendungan juga memainkan peran penting dalam penyediaan energi terbarukan serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Melalui sinergi antara pemerintah dan BUMN konstruksi seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk, pembangunan bendungan menjadi langkah konkret menuju swasembada pangan yang berkelanjutan.
Komitmen Pembangunan oleh PT Waskita Karya
PT Waskita Karya, sebagai salah satu perusahaan konstruksi pelat merah, telah menuntaskan pembangunan dua bendungan strategis: Bendungan Rukoh di Provinsi Aceh dan Bendungan Jlantah di Jawa Tengah. Kedua bendungan ini dijadwalkan akan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam waktu dekat. Pembangunan ini menjadi bagian dari implementasi Asta Cita Presiden, yang memprioritaskan kemandirian bangsa dalam berbagai sektor, termasuk sektor pangan.
Bendungan Rukoh dirancang untuk mengairi lahan irigasi seluas 11.950 hektare. Dengan pola tanam intensif, para petani diharapkan dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan. Sementara itu, Bendungan Jlantah akan menyuplai air bagi 1.494 hektare lahan pertanian di Kecamatan Jatiyoso dan Jumapolo, Kabupaten Karanganyar. Keduanya akan berdampak langsung terhadap peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Menurut Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, pembangunan dua bendungan ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah hadir untuk mendukung petani Indonesia dan memastikan ketersediaan air sepanjang tahun.
Lebih dari Sekadar Irigasi
Fungsi bendungan tidak hanya terbatas pada sektor pertanian. Bendungan Rukoh, misalnya, dirancang untuk menyediakan air baku sebesar 0,90 meter kubik per detik dan memiliki potensi menjadi lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas hingga 140 megawatt. Sementara Bendungan Jlantah dapat menyuplai air baku hingga 150 liter per detik dan dirancang untuk menghasilkan energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLMTH) sebesar 0,625 megawatt.
Dengan demikian, proyek-proyek ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga memperkuat transisi Indonesia menuju energi hijau dan berkelanjutan. Pembangunan bendungan pun turut membuka lapangan kerja, menyerap tenaga kerja lokal, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar.
Deretan Proyek Strategis Lainnya
Selain Rukoh dan Jlantah, PT Waskita Karya juga tengah menggarap sejumlah bendungan strategis lainnya seperti Bendungan Bener, Tiga Dihaji, Mbay, Jragung, Cibeet, dan Karangnongko. Pemerintah telah meresmikan beberapa bendungan penting sepanjang tahun 2024, seperti Bendungan Karian (Januari), Margatiga dan Leuwikeris (Agustus), serta Temef (Oktober). Ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan bendungan sebagai alat strategis untuk mendukung ketahanan pangan dan air nasional.
Tantangan dan Rekomendasi Ke Depan
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menilai bahwa target swasembada beras nasional bisa dicapai jika pemerintah memberikan alokasi anggaran yang tepat dan berkelanjutan. Selain pembangunan fisik seperti bendungan, dukungan anggaran untuk Kementerian Pertanian dan Kementerian PUPR, serta subsidi bagi petani, harus terus ditingkatkan.
Namun, pembangunan infrastruktur bukan satu-satunya solusi. Khudori menekankan pentingnya mengoptimalkan lahan pertanian yang ada, seperti yang dilakukan dalam proyek food estate di Merauke, sebelum membuka lahan baru. Efisiensi pemanfaatan lahan menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara produksi pangan dan pelestarian lingkungan.
Selain itu, perlindungan terhadap lahan pertanian produktif harus diperkuat. Pemerintah perlu mengontrol konversi lahan ke sektor non-pertanian agar tidak menggerus kapasitas produksi pangan. Kebijakan tata ruang dan penggunaan lahan harus benar-benar berpihak pada petani dan ketahanan pangan nasional.
Peran Riset dan Inovasi
Di era perubahan iklim dan tekanan populasi, peningkatan produktivitas pertanian juga perlu didukung oleh riset dan inovasi pertanian. Pemerintah dan sektor swasta harus memperkuat investasi di bidang riset, seperti pengembangan varietas padi unggul, teknologi irigasi efisien, dan sistem pertanian adaptif terhadap cuaca ekstrem.
Dengan inovasi, Indonesia dapat meningkatkan hasil panen tanpa menambah luas lahan, yang sekaligus menjaga lingkungan dan keberlanjutan produksi pangan. Peran lembaga litbang pertanian, universitas, dan startup agroteknologi juga perlu ditingkatkan melalui kolaborasi lintas sektor.
Menuju Kemandirian Pangan yang Berkelanjutan
Keberhasilan pembangunan bendungan seperti Rukoh dan Jlantah menunjukkan bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat menuju kemandirian pangan nasional. Dengan pembangunan infrastruktur yang merata, dukungan anggaran, perlindungan lahan produktif, dan penguatan riset, pemerintah menyiapkan fondasi kuat untuk menghadapi tantangan pangan masa depan.
Pemerintah telah bekerja keras untuk memastikan pasokan air bagi pertanian dan energi, namun kerja sama dari semua pihak—baik swasta, akademisi, petani, hingga masyarakat luas—akan mempercepat tercapainya swasembada pangan yang berkelanjutan dan berkeadilan.

