cropped-Desain-tanpa-judul-1.png
Loading ...

Bupati Hendrajoni Gerak Cepat Ajukan Proposal ke Kementerian PUPR

Pesisir Selatan, Sumatera Barat — Krisis irigasi kini membayangi ribuan hektare sawah di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat. Pasalnya, sejumlah bendungan yang menjadi tulang punggung sistem pengairan di daerah tersebut mengalami kerusakan parah. Menanggapi situasi genting ini, Bupati Pessel, Hendrajoni, mengambil langkah cepat dengan menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) setempat untuk segera menyusun dan mengajukan proposal bantuan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Bendungan-bendungan air rusak. Imbasnya banyak sawah yang tidak teraliri air. Ini jelas butuh penanganan cepat,” tegas Hendrajoni saat melakukan kunjungan lapangan ke salah satu bendungan yang terdampak, Selasa (29/4/2025).

Kunjungan tersebut dilakukan ke Bendungan Air Jalamu yang terletak di Kampung Jalamu, Nagari IV Koto Hilie, Kecamatan Batang Kapas. Dalam kesempatan itu, Hendrajoni tak hanya datang sendiri. Ia turut didampingi oleh Kepala BPBD Pessel, Camat Batang Kapas, perwakilan Polsek, Koramil, dan Wali Nagari setempat, menunjukkan keseriusan dan koordinasi lintas sektor dalam menangani persoalan tersebut.

Kerusakan Akibat Bencana Banjir Berulang

Bendungan Air Jalamu dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat bencana banjir yang melanda beberapa waktu terakhir. Ironisnya, banjir tidak hanya terjadi sekali, tetapi berkali-kali, sehingga memperparah kondisi bendungan. Air yang seharusnya dapat dialirkan ke lahan pertanian menjadi tidak tersedia, menyebabkan puluhan hingga ratusan hektare sawah masyarakat kini terancam gagal panen.

“Ini penting, karena banyak sawah masyarakat bergantung pada air dari bendungan ini. Kalau tidak cepat ditangani, dampaknya akan meluas ke ketahanan pangan daerah,” jelas Hendrajoni di lokasi.

Menyadari pentingnya tindakan segera, Bupati pun memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk segera melakukan perbaikan sementara. Ia meminta alat berat segera diturunkan ke lapangan agar pasokan air bisa kembali mengalir, setidaknya untuk keperluan mendesak para petani.

“BPBD saya minta segera bekerja. Turunkan alat berat, lakukan perbaikan sementara. Jangan tunggu lama. Kita harus jaga produktivitas pertanian rakyat,” tegasnya langsung kepada Kepala BPBD di lokasi.

Usulan Anggaran dari Pusat

Namun, Bupati menyadari bahwa perbaikan sementara saja tidak cukup. Kerusakan struktural yang cukup parah pada beberapa bendungan membutuhkan penanganan menyeluruh yang tidak bisa dibiayai hanya dari APBD. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya percepatan pengajuan proposal bantuan ke Kementerian PUPR.

“Kita sudah instruksikan Dinas PUPR, segera buat proposal bantuan. Data semua bendungan irigasi yang rusak, dan segera kirimkan ke Kementerian PUPR,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Kabupaten Pessel sangat membutuhkan sokongan dana dari pemerintah pusat untuk memperbaiki berbagai infrastruktur pengairan yang rusak.

Menurutnya, keberadaan bendungan tidak bisa dianggap remeh. Lebih dari sekadar bangunan penahan air, bendungan memiliki fungsi strategis dalam pengelolaan sumber daya air: mulai dari penyediaan air irigasi, pengendalian banjir, hingga potensi untuk pembangkit listrik dan penyediaan air baku bagi masyarakat.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Kerusakan bendungan irigasi tidak hanya menjadi masalah teknis, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya petani. Di Pesisir Selatan, mayoritas penduduk di daerah pedesaan menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Tanpa irigasi yang memadai, produksi pertanian bisa terganggu, berimbas pada menurunnya pendapatan petani, naiknya harga pangan lokal, dan bahkan potensi krisis pangan.

“Ini bukan hanya masalah air, tapi juga soal ekonomi rakyat. Kita tidak bisa membiarkan petani berjuang sendiri,” kata Bupati.

Bahkan, dalam jangka panjang, jika permasalahan infrastruktur irigasi tidak segera ditangani, Pessel berisiko mengalami penurunan produktivitas pertanian yang signifikan. Padahal, daerah ini memiliki potensi besar untuk menjadi lumbung pangan di wilayah Sumatera Barat.

Kolaborasi dan Komitmen

Langkah cepat yang diambil oleh Bupati Hendrajoni menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang responsif dalam menghadapi krisis infrastruktur. Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat bisa menjadi solusi konkret bagi masalah yang sudah terlalu lama dibiarkan.

“Saya optimis, dengan dukungan dari Kementerian PUPR dan kolaborasi semua pihak, kerusakan ini bisa kita atasi. Yang penting sekarang adalah bertindak cepat dan tepat,” pungkasnya.

Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa infrastruktur pertanian, termasuk bendungan dan saluran irigasi, adalah fondasi penting bagi ketahanan pangan. Tidak hanya di Pessel, tetapi di seluruh wilayah Indonesia yang bergantung pada pertanian sebagai sumber utama penghidupan.

Penulis: Tim Media Konstruksi

Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/