Indonesia telah resmi bergabung dengan New Development Bank (NDB), sebuah bank pembangunan yang dibentuk oleh anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan). Keputusan ini diharapkan dapat membantu Indonesia memperoleh sumber pembiayaan baru untuk proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan.
Ekonom senior Arif Budimanta menyatakan bahwa Indonesia bisa memanfaatkan NDB sebagai sumber pembiayaan baru. “NDB dengan modal 100 miliar dollar AS diharapkan dapat mengubah lanskap kebutuhan pembiayaan pembangunan berkelanjutan dan infrastruktur khususnya di negara-negara selatan,” ujarnya.
Namun, Arif juga menyebutkan bahwa terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan pemerintah Indonesia dalam bergabung dengan NDB. Di antaranya adalah kewajiban untuk penyetoran modal investasi atau membership fee yang harus dikeluarkan Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa investasi tunai ini dapat dibayar dalam waktu 7 tahun setelah Indonesia bergabung ke NDB. Namun, nilai investasinya belum diungkapkan.
Arif juga menyebutkan bahwa pemerintah harus mencermati skema pembiayaannya mulai dari tingkat suku bunga, tenor pinjaman, mata uang, biaya-biaya lain, hingga jenis proyek yang dibiayai NDB.
“Rencana masuknya Indonesia ke dalam NDB seyogyanya diikuti dengan pipeline project-project pembangunan berkelanjutan yang akan diajukan ke NDB,” tuturnya.
Keputusan Indonesia untuk bergabung dengan NDB ini terhitung setelah sekitar dua bulan resmi bergabung dengan BRICS. Indonesia bergabung dengan BRICS pada 6 Januari 2025.
Dengan bergabungnya Indonesia dengan NDB, diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan Indonesia dalam membiayai proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan. Namun, pemerintah harus tetap waspada dan mencermati skema pembiayaannya agar tidak terjebak dalam utang yang tidak terkendali.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

