Yogyakarta – Pengelolaan sumber daya air, khususnya bendungan, menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi Indonesia di tengah perubahan iklim global. Untuk menjawab tantangan tersebut, Rapat Anggota Tahunan dan Anggota Biasa Komite Nasional Indonesia untuk Bendungan Besar (INACOLD/KNI-BB) Tahun 2024 menjadi wadah penting untuk berbagi gagasan, inovasi, dan solusi strategis. Acara ini diselenggarakan selama tiga hari, dari 15 hingga 17 November 2024, di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Rangkaian kegiatan ini dirangkaikan dengan Seminar Nasional Bendungan Besar, yang menghadirkan lebih dari 800 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk akademisi, profesional, konsultan, kontraktor, komunitas keairan, serta perwakilan pemerintah pusat dan daerah. Tujuan utamanya adalah memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan bendungan yang adaptif, tangguh, dan berkelanjutan.
Bendungan: Simbol Kekuatan dan Kebijaksanaan Alam
Sekretaris Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Beny Suharsono, dalam sambutannya yang mewakili Gubernur DIY, menekankan filosofi penting dari keberadaan bendungan. Ia menyebut bendungan sebagai simbol kekuatan yang tenang namun penuh daya guna. “Bendungan menahan dan mengatur aliran kehidupan. Ia menyuplai air, melindungi dari banjir, dan menjadi sumber energi terbarukan,” ujarnya.
Menurut Beny, filosofi tersebut menggambarkan pentingnya kebijaksanaan dan keteguhan dalam menghadapi tantangan zaman, khususnya yang berkaitan dengan perubahan iklim. “Melalui forum ini, mari kita bangun bendungan-bendungan yang tidak hanya kokoh secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan iklim dan ramah lingkungan,” tambahnya.
Ia juga berharap, melalui forum diskusi ini, para peserta dapat melahirkan ide-ide baru yang mampu menyentuh dimensi sosial dan lingkungan, tidak hanya aspek teknis dan ekonomis semata. “Mari kita jadikan acara ini sebagai ruang kolaboratif untuk berbagi pengalaman dan memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan demi kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Ajang Kolaborasi Profesional Keairan
Ketua Umum KNI-BB INACOLD, Adenan Rasydi, dalam laporannya menyampaikan bahwa acara tahunan ini merupakan ajang utama bagi para pemangku kepentingan di bidang bendungan untuk saling bertukar informasi dan inovasi. Adenan menyebutkan bahwa pada tahun ini, jumlah peserta meningkat signifikan dengan kehadiran lebih dari 800 orang yang berasal dari berbagai profesi dan wilayah di Indonesia.
“Peserta berasal dari perusahaan konsultan, kontraktor, akademisi, komunitas pemerhati keairan, serta perwakilan pemerintah baik dari tingkat nasional maupun daerah. Ini menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mendukung pembangunan infrastruktur air yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya forum ini sebagai wahana membangun sinergi, tidak hanya antarprofesi tetapi juga antara institusi pemerintah, swasta, dan masyarakat. “Melalui sinergi yang kuat, kita bisa menjawab tantangan ke depan, baik dari sisi teknis, kebijakan, maupun sosial lingkungan,” imbuh Adenan.
Dukungan Pemerintah untuk Inovasi Sumber Daya Air
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Diana Kusumastuti, menyampaikan sambutan Menteri PUPR yang menyatakan apresiasi tinggi terhadap peran aktif INACOLD. Ia menyebut INACOLD sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat pengelolaan sumber daya air nasional.
“Melalui forum ini, INACOLD telah menghadirkan wadah yang sangat penting untuk berbagi ilmu dan solusi inovatif. Ini adalah bagian dari upaya kita membangun sinergi demi masa depan pengelolaan air yang lebih baik bagi generasi mendatang,” ucap Diana.
Ia berharap, INACOLD dan para profesional yang tergabung di dalamnya dapat terus berperan aktif dalam mendukung kebijakan pemerintah, khususnya dalam pembangunan infrastruktur air dan pengelolaan bendungan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Menjawab Tantangan Masa Depan
Salah satu tantangan besar yang menjadi perhatian dalam seminar ini adalah dampak perubahan iklim terhadap siklus hidrologi dan keamanan infrastruktur bendungan. Perubahan pola curah hujan, peningkatan risiko banjir ekstrem, serta kekeringan berkepanjangan menuntut adanya pendekatan baru dalam desain, operasional, dan pengelolaan bendungan.
Seminar ini juga membuka ruang diskusi mengenai transformasi digital dalam pengelolaan bendungan, seperti pemanfaatan sistem pemantauan berbasis IoT (Internet of Things), analisis big data untuk prediksi curah hujan dan debit air, serta implementasi teknologi ramah lingkungan dalam pembangunan dan perawatan bendungan.
Selain itu, dimensi sosial dan keberlanjutan juga menjadi topik penting. Peserta diajak untuk melihat pengelolaan bendungan sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas, yang mencakup perlindungan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian budaya lokal.
Harapan dari Yogyakarta
Sebagai tuan rumah, Pemerintah DIY berharap bahwa hasil dari seminar dan rapat tahunan ini tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi menjadi langkah nyata dalam merumuskan kebijakan dan implementasi pembangunan bendungan yang lebih manusiawi dan berwawasan lingkungan.
“Semoga dari Yogyakarta ini lahir gagasan-gagasan besar untuk pengelolaan air yang lebih bijak, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Beny Suharsono menutup sambutannya.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

