Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang dalam menurunkan angka stunting tidak hanya terfokus pada aspek gizi semata, tetapi juga melibatkan peningkatan kualitas lingkungan tempat tinggal. Salah satu langkah inovatif yang dilakukan adalah memperbaiki rumah-rumah tidak layak huni demi menciptakan keluarga sehat yang tinggal di lingkungan yang aman, bersih, dan layak huni.
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, mengungkapkan bahwa hingga pertengahan tahun 2025, Pemkot Tangerang telah memperbaiki lebih dari 8.656 unit rumah tidak layak huni di berbagai kecamatan. Langkah ini merupakan bagian dari pendekatan holistik untuk mendukung ketahanan keluarga, serta menjadi salah satu faktor penting dalam penurunan angka stunting di Kota Tangerang.
“Untuk mendukung ketahanan keluarga dari sisi hunian, Pemerintah Kota Tangerang telah menggulirkan program perbaikan rumah tidak layak huni. Hingga pertengahan tahun ini, sekitar 8.656 unit telah diperbaiki. Pada tahun 2025, ditargetkan ada tambahan 1.000 unit yang akan diperbaiki di seluruh kecamatan,” ujar Sachrudin.
Upaya tersebut mendapat apresiasi langsung dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, dalam kunjungannya ke Kecamatan Pinang, Selasa (8/7). Wihaji menyebut bahwa keberhasilan Kota Tangerang menurunkan prevalensi stunting menjadi 11,2 persen di tahun 2024, jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 19,8 persen, adalah contoh praktik baik yang layak ditiru oleh daerah lain di Indonesia.
“Prevalensi stunting di Kota Tangerang hanya 11,2 persen. Artinya dari 10 balita, hanya satu yang mengalami stunting. Ini capaian luar biasa, dan saya ucapkan terima kasih kepada Wali Kota beserta seluruh jajaran atas kerja kerasnya,” ujar Wihaji.
Program Holistik: Dari Perbaikan Rumah Hingga Intervensi Gizi
Perbaikan rumah hanyalah satu dari sekian banyak program terintegrasi yang dijalankan Pemkot Tangerang untuk menekan angka stunting. Pemerintah kota juga meluncurkan sejumlah inisiatif yang melibatkan berbagai pihak, dari kalangan pegawai pemerintahan, masyarakat, dunia usaha, akademisi, hingga media.
Salah satu program unggulan adalah Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting), yang memberikan perhatian khusus pada keluarga dengan risiko stunting. Gerakan ini tak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga menyentuh perbaikan kondisi lingkungan dan peran serta orang tua dalam menciptakan rumah tangga yang sehat.
Tak kalah penting, Pemkot Tangerang juga menjalankan program “Sate Sami” (Satu Telur Satu Minggu). Melalui program ini, seluruh pegawai pemerintahan menyumbangkan satu butir telur per minggu untuk diberikan kepada balita berisiko stunting. Selain itu, terdapat pula program pemberian makanan tambahan dari bahan pangan lokal yang menyasar 2.776 balita gizi kurang dan 391 ibu hamil.
Program-program tersebut merupakan bagian dari langkah preventif dan intervensi dini yang menyasar langsung pada penyebab utama stunting: kurangnya asupan gizi sejak dini dan selama kehamilan.
Posyandu Aktif: Pilar Skrining dan Edukasi Gizi
Guna memperkuat deteksi dini dan edukasi masyarakat, Pemkot Tangerang mengaktifkan lebih dari 1.000 Posyandu yang tersebar di seluruh 13 kecamatan melalui program Gertak Tangkas (Gerak Serentak untuk Anak Tangerang Sehat dan Cerdas). Posyandu ini menjadi garda terdepan dalam skrining status gizi balita dan edukasi gizi bagi ibu hamil.
Melalui Gertak Tangkas, masyarakat mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan dasar yang sangat penting, seperti penimbangan rutin, pemberian vitamin, serta penyuluhan tentang pentingnya pola makan seimbang. Keberadaan Posyandu juga membantu mengidentifikasi dan memantau anak-anak yang berisiko mengalami stunting, sehingga intervensi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran.
Kolaborasi Multipihak: Kunci Keberhasilan
Kesuksesan Kota Tangerang dalam menekan prevalensi stunting tidak lepas dari semangat kolaborasi yang dibangun bersama berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah daerah menggandeng sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat, dan media dalam menjalankan berbagai program penanggulangan stunting.
“Kita melibatkan semua pihak, baik masyarakat, dunia usaha, akademisi, hingga media. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita bersama. Karena itu, kerja sama yang kolaboratif menjadi kunci keberhasilan kami,” ujar Sachrudin.
Kolaborasi ini juga tercermin dalam program nasional Genting, yang telah menjangkau 229 ribu anak asuh risiko stunting di seluruh Indonesia dan melibatkan lebih dari 11 ribu orang tua asuh. Dengan adanya sinergi lintas sektor seperti ini, penanganan stunting menjadi lebih efektif dan menyentuh berbagai aspek kehidupan keluarga.
Harapan ke Depan: Menuju Nol Stunting
Meskipun capaian Kota Tangerang dalam menurunkan angka stunting sudah sangat baik, pemerintah daerah tetap menargetkan angka stunting bisa ditekan hingga nol persen dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini tentu bukan tugas ringan, namun bukan pula mustahil jika seluruh komponen masyarakat terus bersinergi dan bergerak bersama.
Peningkatan kualitas hunian, intervensi gizi yang berkelanjutan, dan penguatan pelayanan kesehatan dasar menjadi fondasi kuat menuju generasi Tangerang yang lebih sehat, cerdas, dan produktif. Perjalanan masih panjang, tetapi langkah besar telah dimulai.
Dengan semangat gotong royong dan pendekatan menyeluruh, Kota Tangerang membuktikan bahwa penanganan stunting tidak hanya soal gizi, tetapi juga soal keadilan dalam akses hunian, edukasi, dan pelayanan kesehatan. Ini adalah praktik baik yang layak menjadi inspirasi nasional.

