cropped-Desain-tanpa-judul-1.png
Loading ...

Menapak Tilas Bendungan Benteng, Mahyunadi Bawa Inspirasi Irigasi untuk Masa Depan Pangan Kutim

Pinrang, Sulawesi Selatan — Dalam balutan sejarah kolonial yang masih kokoh berdiri, Bendungan Benteng di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, menjadi lebih dari sekadar monumen masa lalu. Bendungan yang dibangun pada tahun 1939 oleh pemerintah kolonial Belanda ini kini menjadi saksi hidup dari upaya modernisasi sistem pertanian berbasis irigasi. Bagi Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup Kutim), Mahyunadi, kunjungan ke bendungan ini bukan hanya napak tilas sejarah, tetapi juga langkah strategis untuk menyiapkan masa depan ketahanan pangan di wilayahnya.

Usai melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Mahyunadi bersama istri, Masriati, dan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kutim, Joni Abdi Setia, menyempatkan diri mengunjungi Bendungan Benteng yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya dengan nomor inventarisasi 874 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar. Di balik tembok-tebal peninggalan era kolonial itu, berlangsung diskusi serius dengan Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (DPSDA-BK) Kabupaten Pinrang, Muhammad Jenal. Fokus pembahasan mereka: irigasi sebagai kunci ketahanan pangan.

Belajar dari Keunggulan Sistem Irigasi Pinrang

Dalam kunjungannya, Mahyunadi mengungkapkan bahwa Kutim saat ini masih sangat bergantung pada sektor pertambangan dan kelapa sawit sebagai penggerak utama ekonomi. Di sisi lain, sektor pertanian belum menjadi andalan, meskipun memiliki potensi besar. Salah satu tantangan utamanya adalah penyebaran lahan pertanian yang tersebar di beberapa kecamatan, tanpa sistem irigasi yang terintegrasi.

“Di Kutim, pertanian belum menjadi primadona. Padahal jika didukung dengan sistem irigasi yang memadai dan terintegrasi, kita bisa mengangkat kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan lokal,” ujarnya.

Mahyunadi pun membandingkan kondisi tersebut dengan Kabupaten Pinrang, yang memiliki hamparan sawah luas hingga puluhan ribu hektare dalam satu kawasan. Manajemen air di Pinrang berjalan secara terstruktur dari hulu ke hilir. Sistem ini tidak hanya memastikan distribusi air yang adil dan efisien, tetapi juga menjamin keberhasilan panen yang konsisten bagi para petani.

“Jika satu titik saluran air macet, dampaknya bisa sangat luas. Dari sini kita belajar pentingnya perencanaan dan pemeliharaan sistem irigasi yang berkesinambungan,” tambah Mahyunadi.

Rencana Revitalisasi dan Ekspansi Pertanian di Kutim

Dari hasil kunjungannya, Mahyunadi membawa pulang sejumlah pelajaran penting. Pemkab Kutim kini berencana menata ulang strategi pertanian, salah satunya dengan merevitalisasi jaringan irigasi yang telah ada. Bahkan, telah disiapkan rencana perluasan lahan sawah hingga 200 hektare, asalkan sistem pendukung seperti saluran air dan infrastruktur pertanian lainnya tersedia secara optimal.

“Inventarisasi akan kami lakukan dari sisi program dan anggaran. Jika sistemnya terbangun dengan baik, potensi pertanian di Kutim sangat besar,” ujarnya.

Empat kecamatan di Kutim yang menjadi pusat produksi beras, yaitu Sangatta Selatan, Long Mesangat, Kongbeng, dan Kaubun, saat ini tengah menjadi sasaran pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi. Proyek ini diharapkan bisa menjadi titik balik dalam membangun sektor pertanian sebagai kekuatan ekonomi baru yang berkelanjutan.

Peran Strategis Bendungan Benteng bagi Sulsel

Sementara itu, Kepala DPSDA-BK Kabupaten Pinrang, Muhammad Jenal, menjelaskan pentingnya Bendungan Benteng sebagai sumber pengairan utama untuk kawasan pertanian di Pinrang dan sekitarnya. Air di bendungan ini berasal dari lima sungai besar: Mamasa, Saddang, Baruppu, Matallo, dan Masuku. Dari sana, air dialirkan melalui tiga saluran induk utama—Sawitto, Rappang, dan Pekkabata—yang masing-masing melayani wilayah pertanian di Pinrang, Sidrap, dan Polewali Mandar.

“Saluran Rappang saja mampu mengairi sekitar 17.000 hektare lahan pertanian. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut kehidupan ribuan petani,” terang Jenal.

Lebih dari sekadar warisan kolonial, Bendungan Benteng telah menjelma menjadi jantung ketahanan pangan di Sulawesi Selatan. Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat secara aktif menjaga keberlangsungan dan pemeliharaan bendungan ini sebagai aset vital bersama.

Refleksi dan Harapan untuk Kutim

Mahyunadi menutup kunjungannya dengan menyampaikan refleksi bahwa Kutim tidak bisa meniru secara utuh apa yang dilakukan Pinrang karena perbedaan geografis dan demografis. Namun, semangat kolektif dalam pengelolaan air dan sumber daya alam harus bisa diadaptasi.

“Kita bisa tiru manajemennya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakatnya. Yang paling penting adalah perubahan pola pikir bahwa pertanian bukan sektor pelengkap, tapi masa depan,” tegasnya.

Kunjungan ini menjadi langkah awal penting bagi Kutim dalam membangun strategi pertanian yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan berpihak pada petani. Dengan pembelajaran dari Pinrang, diharapkan Kutim mampu menciptakan sistem pangan yang tangguh sekaligus mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif yang tidak dapat diperbarui.

Penulis: Tim Media Konstruksi

Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/