Pembangunan Bandara Mahakam Ulu (Mahulu) terus menunjukkan progres signifikan. Meskipun belum berfungsi penuh, proyek strategis ini telah memasuki tahap penting dengan pencapaian panjang runway mencapai 750 meter pada tahun 2025. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mahulu, Didik Subagya, menyampaikan bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap dan mengikuti rencana induk (master plan) dari Dinas Perhubungan.
“Pembangunan bandara sudah kami mulai sejak tahun 2023. Saat itu, kami memulai dengan pembukaan jalan akses menuju lokasi airstrip. Tahun ini dilanjutkan dengan pengaspalan runway dan pembangunan terminal penumpang, yang saat ini sudah dalam proses lelang,” jelas Didik saat dihubungi pada Selasa (10/6).
Bertahap dan Sesuai Master Plan
Proyek ini merupakan salah satu upaya strategis pemerintah daerah dalam membuka akses wilayah Mahulu yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah paling terisolasi di Provinsi Kalimantan Timur. Mengingat skala dan kompleksitas pembangunan, prosesnya tidak bisa dilakukan sekaligus, melainkan secara bertahap dan sesuai dengan perencanaan teknis yang ketat.
“Kalau merujuk pengalaman saya saat dua kali terlibat membangun bandara di Kutai Barat, biayanya bisa mencapai Rp 500 hingga Rp 600 miliar untuk fasilitas sisi darat sampai benar-benar fungsional,” ujar Didik.
Saat ini, pembangunan runway sepanjang 750 meter memungkinkan pesawat kecil jenis Kasa—dengan kapasitas sekitar delapan penumpang—untuk mendarat. Ini merupakan capaian penting, meski bandara belum bisa dioperasikan secara penuh.
“Tahun ini runway sudah bisa digunakan untuk pesawat kecil. Tapi memang belum berfungsi penuh karena masih dalam tahap pengerjaan,” tambah Didik.
Anggaran dan Pendanaan Multisumber
Hingga pertengahan tahun ini, total anggaran yang sudah digelontorkan dari pihak PUPR Mahulu mencapai sekitar Rp 149 miliar. Anggaran ini bersumber dari APBD Mahulu, dan digunakan untuk pembangunan infrastruktur dasar seperti runway dan jalan akses. Selain itu, tahun ini juga terdapat dukungan dana dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebesar Rp 34 miliar untuk pengembangan sisi darat bandara.
“Ada bantuan dari provinsi sekitar Rp 34 miliar untuk sisi darat, sesuai dengan misi dan arahan Pak Gubernur saat kunjungan kedua ke Mahulu,” tutur Didik.
Walau pembangunan bandara Mahulu sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), hingga saat ini proyek tersebut belum memperoleh alokasi anggaran dari Kementerian Perhubungan. Namun, pihak Pemkab Mahulu tetap optimistis bahwa dukungan pusat akan segera menyusul, mengingat pentingnya proyek ini dalam mendorong pemerataan pembangunan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Peran PUPR dan Koordinasi dengan Dishub
Didik juga menegaskan bahwa PUPR Mahulu hanya bertugas sebagai pelaksana teknis dalam proyek ini, dengan seluruh perencanaan dan spesifikasi teknis dirancang oleh Dinas Perhubungan.
“Pembangunan bandara dilakukan berdasarkan master plan dari Dinas Perhubungan. PUPR hanya menjalankan konstruksi berdasarkan perencanaan dan gambar teknis yang ditentukan,” tegasnya.
Pernyataan ini disampaikan untuk meluruskan persepsi publik bahwa pembangunan bandara belum berfungsi karena adanya kendala teknis dari PUPR. Ia menegaskan bahwa proses pembangunan berjalan sesuai prosedur dan target tahapan, meski belum mencapai fase operasional.
Tantangan Pembangunan di Wilayah Terpencil
Salah satu tantangan utama dalam pembangunan bandara Mahulu adalah kondisi geografis yang sangat sulit. Kabupaten Mahulu terletak di wilayah perbatasan dengan Malaysia, dengan akses jalan darat yang terbatas dan infrastruktur dasar yang belum merata. Hal ini membuat pembangunan fasilitas berskala besar seperti bandara harus dilakukan dengan perencanaan yang sangat hati-hati dan biaya tinggi.
“Pembangunan bandara tidak sesederhana membangun jalan, terutama di wilayah yang infrastrukturnya masih sangat terbatas seperti Mahulu. Pembangunan ini bertahap dan harus sesuai prosedur, karena bandara bukan proyek kecil,” jelas Didik.
Namun demikian, pihaknya memastikan bahwa langkah-langkah menuju fungsionalitas sudah berjalan, dan semua pihak terkait telah bekerja keras agar Mahulu segera memiliki akses transportasi udara yang memadai.
Harapan untuk Masa Depan Mahulu
Dengan selesainya pembangunan runway 750 meter dan dimulainya lelang untuk terminal penumpang, optimisme terhadap masa depan Mahulu semakin menguat. Bandara ini diharapkan menjadi pintu masuk utama bagi arus barang dan orang ke wilayah yang selama ini mengandalkan transportasi sungai atau udara melalui pesawat perintis yang mendarat di landasan darurat.
Pemerintah Kabupaten Mahulu melihat pembangunan bandara ini sebagai investasi jangka panjang yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi, pemerataan pelayanan publik, dan kemudahan akses logistik ke wilayah-wilayah pedalaman.
Dalam jangka panjang, bandara ini dirancang untuk memiliki landasan pacu sepanjang 1.200 meter, yang nantinya bisa melayani pesawat jenis turboprop menengah seperti ATR. Dengan begitu, Mahulu bisa lebih terkoneksi ke pusat-pusat ekonomi dan layanan publik di Kalimantan Timur dan sekitarnya.
Pembangunan ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membangun dari pinggiran dan menjadikan Mahulu bagian dari lompatan besar Indonesia menuju konektivitas nasional yang merata dan inklusif.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

