Bandung – Dalam upaya menuju swasembada energi nasional serta pengurangan emisi karbon, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung menjadi salah satu solusi inovatif yang tengah digalakkan pemerintah. Salah satu proyek unggulan dalam bidang ini adalah PLTS terapung Cirata di Jawa Barat, yang menjadi proyek terbesar se-Asia Tenggara dan kini menjadi simbol kemajuan energi terbarukan di Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dalam kunjungannya ke Waduk Cirata, menyampaikan harapan besar terhadap pengembangan PLTS terapung di berbagai wilayah Indonesia. Menurut AHY, proyek ini tidak hanya menjadi sumber listrik alternatif yang ramah lingkungan, namun juga berpotensi menjadi pilar penting dalam pencapaian target net zero emission dan swasembada energi nasional.
“PLTS terapung Cirata ini luar biasa. Ia hanya menempati empat persen dari total permukaan air waduk, tapi bisa menghasilkan listrik hingga 192 Megawatt (MW). Ini menunjukkan efisiensi ruang dan potensi luar biasa dari sumber daya alam kita,” ujar AHY, Kamis (18/4).
Indonesia, lanjut AHY, memiliki ratusan bendungan dan waduk yang tersebar di berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Potensi besar inilah yang menurutnya harus dioptimalkan untuk membangun PLTS terapung serupa.
“Kita berharap ada banyak pengembangan PLTS terapung seperti ini ke depan. Tentunya harus melalui kajian analisis yang matang, mengingat pembangunan fasilitas energi terbarukan membutuhkan investasi yang besar,” tambahnya.
Sebagai informasi, pembangunan awal PLTS terapung Cirata yang berkapasitas 145 MW menelan biaya sekitar Rp1,7 triliun. Nilai ini tentu tidak kecil, namun AHY menegaskan bahwa investasi tersebut adalah bentuk komitmen jangka panjang terhadap kelestarian lingkungan dan keamanan energi nasional.
Semangat ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong kemandirian Indonesia dalam bidang energi, pangan, dan air. Melalui pembangunan bendungan dan pemanfaatan energi bersih, diharapkan kesejahteraan masyarakat juga meningkat seiring pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Dengan penggunaan energi terbarukan, kita bisa mengurangi emisi karbon dioksida dan ikut serta dalam upaya global menghadapi krisis iklim. Ini penting tidak hanya untuk kita, tapi juga untuk anak cucu kita di masa depan,” ujar AHY.
Tak hanya berhenti di Cirata, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur Dasar juga telah menyiapkan tiga proyek PLTS terapung lainnya. Muhammad Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Infrastruktur Dasar Kemenkoinfra, mengungkapkan bahwa proyek-proyek tersebut akan dibangun di Bendungan Karangkates (Jawa Timur), Saguling (Jawa Barat), dan Danau Singkarak (Sumatera Barat).
“Proyek-proyek ini sudah dalam tahap penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) dan sedang dalam persiapan konstruksi,” jelas Rachmanoe.
PLTS Terapung Cirata juga memberikan dampak sosial yang signifikan. Proyek ini menyerap hingga 1.400 tenaga kerja lokal dan melibatkan berbagai UMKM selama fase pembangunan hingga operasional. Selain itu, pelindungan area waduk seluas 250 hektar dari paparan sinar matahari langsung turut menjaga ekosistem lingkungan.
“Harapan kami, PLN terus maju mencari inovasi-inovasi yang lebih baik bekerja sama dengan berbagai partners, baik dalam maupun luar negeri. Kami dari Kemenko Infrastruktur akan terus menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pengembangan energi bersih dan terbarukan,” tutup Agus Harimurti Yudhoyono.
Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong kemandirian energi nasional dan mempercepat transisi menuju energi hijau untuk masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

