Perbaikan ruas jalan Nanga Pinoh–Ella Hilir yang selama ini mengalami kerusakan parah, akhirnya mulai dikerjakan pada pekan ini. Proyek perbaikan ini merupakan tindak lanjut dari hasil koordinasi intens antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Melawi, Pemerintah Kabupaten Melawi, serta sejumlah perusahaan yang turut andil dalam pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut.
Ketua DPRD Melawi, Hendegi, bersama jajaran Komisi II DPRD, turun langsung ke lapangan untuk memantau proses awal perbaikan jalan, pada Sabtu (24/5/2025). Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk pengawasan legislatif agar pelaksanaan proyek berjalan lancar, tepat waktu, dan menghasilkan kualitas infrastruktur yang dapat dinikmati masyarakat dalam jangka panjang.
“Kami ingin memastikan bahwa tidak ada hambatan di lapangan, dan bahwa dana serta kontribusi dari pihak perusahaan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat,” ujar Hendegi.
Menurut Hendegi, pengawasan dari legislatif bukan semata-mata fungsi kontrol, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan kolaborasi yang kuat antara semua pihak yang terlibat. Hal ini mencakup pemerintah daerah, pihak swasta, serta masyarakat lokal yang secara langsung terdampak oleh keberadaan infrastruktur jalan tersebut.
Sinergi sebagai Kunci Keberhasilan
Dalam upaya perbaikan ini, DPRD membuka ruang selebar-lebarnya bagi sektor swasta, terutama perusahaan perkebunan, pengusaha lokal, serta pengelola SPBU di sekitar kawasan yang terdampak kerusakan jalan. Kolaborasi ini bukan hanya dari sisi teknis pelaksanaan, namun juga dari segi pendanaan, agar proyek dapat berjalan lebih cepat dan efektif.
Sebelumnya, dalam rapat koordinasi yang diadakan pada Kamis lalu, sejumlah kepala desa di sepanjang jalur jalan rusak, serta perwakilan perusahaan, menyepakati titik-titik perbaikan prioritas. Beberapa lokasi tersebut mencakup:
-
Kecamatan Nanga Pinoh: Simpang Jalan Erna, depan Kantor Desa Semadin Lengkong, depan rumah P. Yunan, dan jalan di depan pesantren.
-
Kecamatan Ella Hilir: Simpang Desa Kebebu, Desa Otak, dua titik di Desa Kebebu, Simpang Pihu, serta Jalan menuju Logpond.
Titik-titik tersebut merupakan lokasi strategis yang selama ini menjadi keluhan utama masyarakat, terutama karena berperan sebagai jalur vital penghubung antarkecamatan dan akses ekonomi.
Skema Gotong Royong sebagai Model Efektif
Menariknya, model perbaikan jalan kali ini mengedepankan prinsip gotong royong. Hal ini menandai pendekatan pembangunan yang tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah, tetapi juga memberdayakan seluruh potensi lokal. Skema gotong royong ini melibatkan DPRD, camat, dinas teknis terkait, kepala desa, serta sektor swasta sebagai satu kesatuan tim.
Dengan pendekatan kolaboratif ini, beban perbaikan infrastruktur menjadi lebih ringan dan berkelanjutan. Selain itu, masyarakat pun turut merasa memiliki terhadap hasil pembangunan yang dilakukan bersama.
Penanggung Jawab Teknis Ditunjuk
Agar pelaksanaan teknis berjalan dengan standar yang baik dan terkoordinasi, Kepala Unit Pelaksana Jalan dan Jembatan (UPJJ) wilayah Ella Menukung ditunjuk sebagai penanggung jawab lapangan. UPJJ akan memantau langsung proses pengerjaan, memastikan penggunaan material sesuai spesifikasi, serta menjaga kualitas pembangunan agar tahan lama dan sesuai kebutuhan.
Dengan penunjukan ini, diharapkan tidak terjadi tumpang tindih tanggung jawab, dan pelaksanaan proyek dapat dilakukan dengan efisien dan profesional.
Dampak Positif bagi Masyarakat
Kerusakan ruas jalan Nanga Pinoh–Ella Hilir selama ini menjadi keluhan utama masyarakat. Jalan yang berlubang dan tidak rata tidak hanya menyulitkan mobilitas warga, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi, distribusi hasil pertanian, dan bahkan mengganggu layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan.
Dengan dimulainya proyek perbaikan, masyarakat Dusun-dusun di sepanjang jalan tersebut mulai merasakan optimisme baru. Selain memperlancar konektivitas antarwilayah, perbaikan jalan ini juga diyakini akan memacu pertumbuhan ekonomi lokal, memperluas akses layanan publik, dan menurunkan angka kecelakaan lalu lintas.
“Ini bentuk komitmen nyata dari pemerintah dan legislatif dalam merespons keluhan warga. Perbaikan jalan ini bukan hanya pembangunan fisik, tapi juga bagian dari meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar salah satu tokoh masyarakat Desa Kebebu.
Menjadi Model Bagi Wilayah Lain
Proyek ini juga berpotensi menjadi model percontohan bagi wilayah lain di Kabupaten Melawi, atau bahkan kabupaten-kabupaten tetangga, dalam menangani persoalan infrastruktur yang terbengkalai. Pendekatan gotong royong antara pemerintah, legislatif, swasta, dan masyarakat terbukti dapat mempercepat pembangunan dan meminimalkan hambatan birokrasi.
Dengan semangat kolaborasi, transparansi, dan pengawasan yang ketat, proyek perbaikan jalan Nanga Pinoh–Ella Hilir diharapkan dapat selesai tepat waktu dan memberikan manfaat jangka panjang. Pemerintah daerah pun diharapkan terus menjaga komunikasi intensif dengan semua pemangku kepentingan agar pelaksanaan berjalan sesuai harapan.
Langkah ini membuktikan bahwa dengan niat baik dan kerja sama lintas sektor, pembangunan infrastruktur yang berkualitas bukanlah hal yang mustahil, bahkan di daerah terpencil sekalipun.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

