Pelabuhan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Morotai yang dibangun oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk resmi mulai beroperasi dan membawa harapan besar bagi peningkatan potensi ekonomi kelautan di wilayah terluar Indonesia. Terletak di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, proyek ini menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam mengembangkan infrastruktur maritim nasional dan memberdayakan masyarakat pesisir.
Keberadaan SKPT Morotai menjadi bagian dari upaya strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Selain memberikan akses yang lebih mudah bagi para nelayan dan pelaku industri perikanan, pelabuhan ini juga dirancang untuk mendukung kegiatan penangkapan, pengolahan, dan distribusi hasil laut secara efisien dan terintegrasi.
Corporate Secretary PT Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, menyatakan bahwa proyek SKPT Morotai tidak hanya ditujukan untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan geografis. “Keberadaan SKPT ini mendekatkan layanan infrastruktur perikanan kepada masyarakat, terutama di wilayah strategis dan perbatasan. Ini sangat penting dalam pemerataan pembangunan,” ujar Ermy dalam siaran pers, Kamis (8/5).
Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi tuna sirip kuning di SKPT Morotai mencapai 1.382 ton pada tahun 2024. Nilai total produksi ikan di kawasan ini tercatat sebesar Rp65,83 miliar. Dengan pengoperasian pelabuhan yang telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, angka-angka tersebut diyakini akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Ermy mengungkapkan, pelabuhan ini dibangun dengan anggaran sebesar Rp115,7 miliar melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO) antara Waskita Karya dan STK. Pembangunan ini menjadi pondasi penting dalam mendukung pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pembangunan lanjutan berupa dermaga dan breakwater (pemecah gelombang) akan mendorong peningkatan jumlah kapal yang dapat berlabuh hingga 175 unit. Produksi perikanan pun ditargetkan melonjak hingga 39.100 ton per tahun, dengan potensi penyerapan tenaga kerja mencapai 1.320 orang. “Ini adalah langkah besar dalam mendukung kemandirian ekonomi masyarakat pesisir serta menciptakan lapangan kerja baru yang relevan dan produktif,” tambahnya.
SKPT Morotai juga telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern untuk mendukung kegiatan operasionalnya. Di antaranya adalah mesin pembuat es serpih (Ice Flake Machine/IFM) berkapasitas 10 ton dan fasilitas pendingin terpadu (Integrated Cold Storage/ICS) yang dapat menyimpan hingga 200 ton ikan. Fasilitas lainnya mencakup kantor administrasi, barak nelayan, mess pegawai, gudang logistik, serta seawall atau tanggul laut yang dibangun untuk melindungi kawasan pelabuhan dari abrasi.
Salah satu inovasi menarik dalam proyek ini adalah pembangunan seawall menggunakan buis beton. Keputusan ini diambil karena keterbatasan material alam berupa batu armor di wilayah sekitar serta adanya perubahan garis pantai yang signifikan. Solusi ini dinilai efektif dalam menjaga kelangsungan struktur pelabuhan serta menyesuaikan pembangunan dengan kondisi geografis lokal.
Proyek SKPT Morotai menjadi bukti nyata sinergi antara pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat. Dengan segala fasilitas yang ada, SKPT Morotai akan mempermudah rantai pasok produk perikanan dari daerah ke pasar nasional maupun internasional. Ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam memperkuat daya saing sektor kelautan Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu penghasil tuna terbesar di dunia.
Pulau Morotai sendiri memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena terletak di jalur pelayaran internasional dan berdekatan dengan kawasan Asia Pasifik. Hal ini memberikan peluang besar untuk mengembangkan industri perikanan ekspor dan menarik investasi di bidang pengolahan hasil laut.
Ke depan, SKPT Morotai diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan ekonomi baru di wilayah timur Indonesia, serta menjadi model pengembangan SKPT di daerah perbatasan lainnya. Pemerintah melalui Kementerian KKP juga telah menargetkan pengembangan sentra-sentra perikanan lain di sejumlah pulau terluar guna menciptakan pemerataan pembangunan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Proyek ini juga menjadi bagian dari komitmen PT Waskita Karya sebagai BUMN konstruksi dalam mendukung pembangunan infrastruktur yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas. Dengan berbagai inovasi dan pendekatan yang adaptif terhadap kondisi lokal, Waskita Karya menunjukkan kapasitasnya dalam mewujudkan pembangunan yang tidak hanya andal secara teknis, tetapi juga berdampak sosial dan ekonomi secara nyata.
Dengan mulai beroperasinya SKPT Morotai, Indonesia kembali membuktikan bahwa pembangunan yang menyentuh wilayah terluar dan masyarakat pesisir mampu memberikan dampak besar dalam meningkatkan kesejahteraan dan memperkuat posisi negara sebagai kekuatan maritim yang tangguh dan mandiri.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Untuk mengetahui berita lainnya Baca di: www.mediakonstruksi.id/berita/, www.mediakonstruksi.id/info/

